Peran Uang dalam Pembangunan Ekonomi Masyarakat Modern
Siak Sri Indrapura-Sangkakalapost.com
Uang bukan sekadar alat tukar — ia adalah saraf ekonomi yang menghubungkan rumah tangga, bisnis, dan negara. Dari rekening tabungan sederhana hingga aliran investasi besar, uang mendorong produksi, konsumsi, dan investasi yang pada akhirnya menentukan keberlanjutan pembangunan.
Di era digital, cara uang bergerak berubah cepat: akun digital, remitansi lintas-batas, dan pembiayaan via fintech membuka peluang baru sekaligus tantangan yang harus dikelola.
Walau peran uang jelas, distribusi dan aksesnya masih timpang. Masih ada miliaran orang yang baru saja memperoleh akses ke layanan keuangan dalam satu dekade terakhir, namun kesenjangan akses antar wilayah, gender, dan kelompok miskin tetap nyata. Di tingkat makro, pembiayaan untuk investasi—yang diukur lewat pembentukan modal bruto—menjadi penentu seberapa cepat sebuah negara mampu membangun infrastruktur dan membuka lapangan kerja.
Di Indonesia misalnya, indikator investasi domestik (gross capital formation) menunjukkan fluktuasi yang mempengaruhi kemampuan negara mendorong pembangunan jangka panjang. Sementara itu, aliran remitansi global —sumber penting bagi rumah tangga di banyak negara—tercatat ratusan miliar dolar dan berpengaruh langsung pada kesejahteraan keluarga yang menerima.
Pertama, akses ke layanan keuangan (financial inclusion) memperkuat stabilitas ekonomi rumah tangga: orang dengan rekening bank lebih mudah menabung, menerima gaji, dan mengakses kredit produktif. Data Global Findex terbaru menunjukkan peningkatan signifikan: saat ini sebagian besar orang dewasa di dunia telah memiliki akun —fenomena yang membuka jalan bagi inklusi digital dan layanan keuangan yang lebih murah dan transparan.
Ini bukan sekadar statistik; penelitian menunjukkan hubungan kuat antara inklusi keuangan dan penurunan kemiskinan serta ketimpangan.
Leora Klapper, ekonom di World Bank, menekankan bahwa inklusi finansial memungkinkan masyarakat untuk mengelola risiko, berinvestasi pada pendidikan dan usaha kecil, serta meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Kedua, uang sebagai modal untuk pembangunan infrastruktur dan investasi produktif.
Rasio pembentukan modal terhadap PDB (gross capital formation) adalah indikator bagaimana uang diwujudkan menjadi aset produktif—pabrik, jalan, layanan publik—yang menciptakan lapangan kerja.
Fluktuasi investasi ini berimplikasi langsung pada kemampuan negara mengejar tujuan pembangunan ekonomi. Data World Bank untuk Indonesia memperlihatkan variasi angka yang menjadi sinyal perluasan investasi untuk menopang pertumbuhan.
Ketiga, aliran uang lintas-batas seperti remitansi memberi efek langsung ke konsumsi dan kesejahteraan rumah tangga. Pada 2023, remitansi global tercatat ratusan miliar dolar, membantu jutaan keluarga menutup kebutuhan dasar dan modal usaha kecil—sebuah bukti nyata bagaimana uang dari luar juga menjadi mesin pembangunan lokal.
Namun, biaya pengiriman uang dan kerawanan terhadap guncangan ekonomi negara pengirim tetap menjadi masalah yang menahan potensi penuh remitansi.
Dari pemaparan diatas kami mempunyai beberapa solusi yaitu:
1. Perluas akses ke layanan keuangan digital — pemerintah dan sektor swasta harus berkolaborasi memperluas infrastruktur digital serta literasi keuangan agar rekening dan layanan produktif dapat menjangkau kelompok marjinal. (Contoh: program mobile money, agen perbankan)
2. Dorong investasi produktif dan iklim usaha — kebijakan fiskal dan insentif yang memacu investasi publik dan swasta akan menaikkan pembentukan modal, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat rantai nilai lokal.
3.Kurangi biaya remitansi dan perbaiki akses pasar modal — regulasi yang mempermudah transfer lintas-batas dan meningkatkan persaingan fintech dapat menurunkan biaya kirim uang dan memperbesar manfaat remitansi bagi penerima.
4. Perkuat perlindungan dan literasi konsumen — akses tanpa pengawalan membuat masyarakat rentan terhadap produk berisiko; kampanye literasi dan perlindungan konsumen penting agar uang yang masuk digunakan untuk investasi produktif, bukan jebakan utang.
Uang adalah alat —bukan tujuan akhir—yang bila dikelola dengan kebijakan cerdas dan akses yang merata dapat menjadi katalisator pembangunan ekonomi. Data global dan nasional menunjukkan betapa inklusi finansial, investasi produktif, dan aliran remitansi berkontribusi nyata pada kesejahteraan.
Tantangannya jelas: memastikan aset paling fundamental ini sampai ke tangan yang tepat dan digunakan untuk menciptakan lapangan kerja, ketahanan rumah tangga, dan pertumbuhan yang inklusif. Dengan sinergi kebijakan, inovasi teknologi, dan peningkatan kapasitas masyarakat, peran uang dalam pembangunan dapat dimaksimalkan demi kesejahteraan bersama.(Rls/Abdul )
Penulis: Farah Fadillah
Prodi Manajemen Bisnis Syariah (UNIVERSITAS TAZKIA).
